Air Mata di Tengah Gempuran

i
0

Namaku Rina, seorang perempuan berusia 24 tahun yang baru saja memasuki kehidupan pernikahan. Pernikahanku dengan Andi berlangsung hanya enam bulan yang lalu. Kami tinggal di rumah dua lantai yang nyaman bersama ayah mertuaku, Bapak Surya, seorang pria berusia 52 tahun dengan postur tegap dan wibawa yang kuat. Andi sering bepergian ke luar kota karena pekerjaannya, meninggalkanku sendirian di rumah.

Malam itu, Andi sudah pergi sejak pagi ke Surabaya dan baru akan kembali tiga hari lagi. Rumah terasa sangat sepi. Aku menghabiskan malam dengan rutinitas biasa, lalu naik ke kamar tidur di lantai dua. Aku mengenakan gaun tidur tipis berwarna putih yang longgar, tanpa bra, hanya celana dalam sederhana di baliknya.

Pukul setengah dua belas malam, aku terbangun karena suara pintu kamar yang pelan terbuka. Dalam kegelapan, aku melihat bayangan tinggi besar berdiri di ambang pintu. Itu Bapak Surya. Ia mengenakan kaus oblong dan celana pendek. Aku langsung duduk tegak, menarik selimut hingga dada. Jantungku berdegup kencang.

“Pak… ada apa?” tanyaku dengan suara gemetar.

Bapak tidak menjawab. Ia melangkah pelan mendekat ke sisi ranjang. Matanya menatapku dengan intensitas yang gelap. Sebelum aku sempat bergerak, ia duduk di tepi ranjang dan langsung mencengkeram pergelangan tanganku dengan kuat.

“Pak… tolong… jangan…” bisikku, air mata sudah mulai menggenang di mataku. “Saya mohon… jangan lakukan ini…”

Air mataku mengalir deras. Aku menangis tersedu-sedu sambil terus memohon. “Pak… jangan… please… hentikan… saya takut…”

Bapak tetap diam sepenuhnya. Dengan satu gerakan kasar, ia menarik selimutku hingga jatuh ke lantai. Gaun tidurku naik hingga pinggang. Tangan besarnya merobek tali gaun di bahu hingga kain tipis itu robek, memperlihatkan payudaraku yang bulat dan kencang. Aku mencoba menutupi dada, tapi ia langsung mencengkeram kedua pergelangan tanganku dan menekannya di atas kepala.

“Pak… jangan… saya mohon…” isakku lagi, suaraku parau karena ketakutan.

Bapak tidak mengeluarkan suara. Ia hanya menindihku dengan berat badannya yang berotot, menekanku kuat-kuat ke kasur. Tangan kanannya menarik celana dalamku hingga robek dan membuka lebar pahaku. Aku merasakan ujung kejantanannya yang sudah tegang, panas, dan keras menyentuh bibir vaginaku yang kering karena ketakutan.

Tanpa peringatan, ia mendorong pinggulnya maju dengan kuat. Kejantanannya yang tebal menghunjam masuk hingga pangkal dalam satu hantaman kasar. Rasa sakit yang tajam menyengat vaginaku yang belum siap.

“Ahh… sakit… Pak… jangan…” jeritku tertahan di antara tangisan.

Bapak hanya mengeluarkan desahan rendah yang panjang, “Hhhnnn…” saat kejantanannya sepenuhnya tertanam di dalam vaginaku.

Aku terus menangis dan memohon beberapa saat lagi. “Pak… tolong… jangan teruskan… sakit sekali…”

Namun Bapak mulai menggenjotku dengan irama kuat dan tanpa ampun. Setiap hantaman pinggulnya masuk-keluar sepenuhnya, keras dan cepat. Suara tabrakan daging kami memenuhi kamar yang sunyi—plok… plok… plok—yang basah dan brutal. Payudaraku bergoyang liar ke atas-bawah mengikuti setiap genjotan kasarnya.

Aku berhenti memohon. Hanya isakan pelan yang tersisa, kemudian aku menjadi diam sepenuhnya. Air mata terus mengalir deras di pipiku tanpa suara. Aku berusaha keras tidak menikmati apa yang terjadi. Aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat, berusaha menahan segala sensasi yang mulai muncul. Ini salah. Aku tidak boleh menikmati. Aku berusaha keras menolak gelombang kenikmatan yang perlahan menyebar dari dalam vaginaku.

Tapi lama-kelamaan, meski aku berusaha sekuat tenaga, tubuhku mulai berkhianat. Setiap hantaman kejantanannya yang tebal dan panas menggesek dinding vaginaku dengan sempurna, menciptakan sensasi hangat yang semakin kuat. Vaginaku yang semula kering perlahan menjadi sangat licin. Suara hantaman mulai berubah—plok… plok… plok—menjadi semakin keras dan basah karena cairanku yang melimpah. Aku orgasme pertama kali tanpa bisa mencegahnya. Tubuhku mengejang pelan, vaginaku berdenyut kuat menggenggam kejantanannya, dan gelombang kenikmatan menyapu diriku. Aku sangat tidak ingin menunjukkan bahwa aku sangat menikmati, jadi aku tetap diam sebisa mungkin. Tapi desahan kecil mulai lolos dari mulutku. Kadang aku menutup mulut dengan tangan untuk menahannya, kadang desahan itu lepas begitu saja, pelan dan tercekat.

Bapak terus menggenjot tanpa henti. Desahannya semakin sering dan berat setiap kali ia menghunjam dalam-dalam. “Ahh… hnnn… hhnnngh…” Suara desahan rendah dan serak itu semakin dalam, menunjukkan betapa ia menikmati tubuhku yang semakin basah. Gerakannya semakin cepat dan ganas. Ia mencengkeram pinggulku kuat-kuat, menarikku ke arahnya agar setiap hantaman semakin dalam dan kuat. Keringatnya menetes ke tubuhku yang basah oleh air mata dan cairan kenikmatan.

Ia mengubah posisi sedikit, menarik kakiku ke atas bahunya sehingga vaginaku terbuka lebih lebar. Genjotannya kini terasa jauh lebih brutal dan dalam. Suara plok-plok semakin keras dan basah, memenuhi seluruh kamar. Aku mulai mendesah kecil lagi, tanganku bergantian menutup mulut dan jatuh lemas ke sisi tubuh. Aku berusaha keras menahan diri, tapi desahan itu terus lolos di sela-sela napas yang tersengal.

Bapak menggenjotku terus-menerus selama hampir dua puluh lima menit. Desahannya semakin cepat dan kasar. Akhirnya, tubuhnya menegang kuat. Dengan desahan panjang yang dalam dan penuh kenikmatan, “Hhhhhnnngggghhh…”, ia mendorong kejantanannya sedalam mungkin dan menyemburkan cairannya yang panas dan kental langsung ke dalam rahimku.

Pada saat yang sama, tanpa bisa aku tahan, orgasme kedua yang jauh lebih kuat menyapu tubuhku. Refleks, tanganku terangkat dan memeluk punggung Bapak dengan erat. Tubuhku mengejang hebat, vaginaku berdenyut kuat menggenggam kejantanannya, dan cairan kenikmatanku menyembur bercampur dengan miliknya. Desahanku lepas tanpa kendali, lebih keras dari sebelumnya.

Sesaat kemudian aku sadar apa yang aku lakukan. Aku langsung melepaskan pelukan itu dengan cepat, tanganku jatuh lemas ke sisi tubuhku. Rasa malu yang luar biasa membanjiri hatiku. Aku sangat malu. Aku tidak berani menatap wajah Bapak sama sekali. Mataku tertutup rapat, air mata mengalir deras, dan wajahku memerah hebat. Aku merasa kotor dan hina karena telah memeluknya dan menunjukkan kenikmatan yang seharusnya tidak aku rasakan.

Bapak menarik kejantanannya yang masih berdenyut keluar perlahan. Cairan putih kental meluber deras dari vaginaku yang bengkak. Ia berdiri tanpa suara, menatapku sebentar, lalu berbalik dan meninggalkan kamar, menutup pintu pelan di belakangnya.

Aku terbaring lemah di ranjang, tubuhku masih bergetar karena sisa orgasme. Air mata mengalir tanpa henti. Rasa malu yang mendalam membuatku ingin menghilang. Aku tidak berani membuka mata, apalagi menatap ke arah pintu tempat Bapak keluar tadi.

Keesokan paginya, aku turun ke dapur dengan tubuh yang masih terasa lemas dan sensitif. Aku sangat canggung. Setiap langkah terasa berat, wajahku memerah, dan aku tidak berani menatap langsung ke arah Bapak. Tanganku gemetar saat menuang kopi. Aku duduk di meja makan dengan kepala tertunduk rendah, berusaha menyembunyikan memar samar di leher dan pergelangan tanganku.

Bapak sudah duduk di sana seperti biasa. Ia membaca koran pagi dengan tenang, wajahnya biasa saja, seolah-olah tidak ada kejadian apa pun semalam. Ia menuang kopinya sendiri, makan roti dengan lahap, dan sesekali melirikku sekilas tanpa ekspresi khusus. Sikapnya benar-benar normal, sopan, dan tenang seperti pagi-pagi biasanya.

Aku tidak tahu harus berkata apa. Rasa canggung dan rasa bersalah yang mendalam membuat tenggorokanku tercekat. Aku hanya bisa diam, menunduk, dan berpura-pura sibuk dengan sarapanku. Bapak tidak mengatakan apa pun tentang malam itu. Ia bangkit, mencuci piringnya sendiri, lalu berpamitan dengan suara biasa, “Bapak ke kantor dulu,” sebelum pergi seperti hari-hari biasa.

Aku duduk sendirian di meja makan, air mata menggenang lagi di mataku. Malam kelam itu seolah tidak pernah terjadi di mata Bapak, tapi di dalam hatiku, semuanya masih sangat nyata dan memalukan.


Dua hari kemudian, suasana rumah terasa berbeda bagiku. Andi, suamiku, akan pulang malam ini. Aku sangat senang sekali. Akhirnya, setelah hampir sepuluh hari ditinggal sendirian, aku bisa merasakan kehadiran suamiku lagi. Aku berharap kehadirannya bisa membuat segalanya kembali normal, meski bayangan malam-malam sebelumnya masih menghantui pikiranku.

Sore harinya, saat aku sedang membereskan dapur, Bapak Surya duduk di ruang tamu. Aku mendekat dengan kepala tertunduk, tidak berani menatap matanya. Suaraku pelan dan gugup ketika aku berkata, “Pak… Andi mau pulang nanti malam.”

Aku kira Bapak akan takut atau setidaknya mundur mendengar kabar itu. Aku berharap ia akan berhenti karena takut rahasianya terbongkar. Ternyata aku salah besar.

Bapak tidak mengatakan apa pun. Ia bangkit dari sofa dan mendekatiku dari belakang. Tiba-tiba, kedua lengannya memeluk pinggangku erat. Aku kaget, tubuhku menegang. Tangan besarnya langsung naik dan meremas buah dadaku dari belakang dengan kuat, meremasnya melalui kain daster tipis yang aku kenakan. Jempolnya menggosok putingku yang langsung mengeras.

Aku terkejut, tapi kali ini tidak ada penolakan yang keluar dari mulutku. Aku juga tidak menyambutnya. Aku hanya bisa pasrah dan diam sepenuhnya. Tubuhku berdiri kaku, napasku tersengal pelan, sementara tangan Bapak terus meremas payudaraku dengan rakus.

Tanpa kata, Bapak menuntunku menuju sofa ruang tamu. Entah kenapa, kakiku menurut saja. Aku berjalan mengikutinya tanpa perlawanan. Ia mendudukkanku di sofa, lalu dengan cepat menaikan dasterku hingga pinggang. Tangan kasarnya menyingkap celana dalamku ke samping, memperlihatkan vaginaku yang sudah mulai basah karena sentuhannya tadi.

Bapak berlutut di depanku dan langsung menjilati vaginaku dengan rakus. Lidahnya yang panas dan basah menyapu bibir vaginaku dari bawah ke atas, kemudian menyelip ke dalam celahku. Bunyi jilatan dan kecupan basah melayang di udara ruangan—slurp… slurp… chup… chup. Suara itu begitu jelas dan mesum, membuat nafsuku ikut memuncak dengan cepat.

Aku ingin menikmati tanpa Bapak tahu bahwa aku sangat menikmati. Harus aku akui dalam hati, aku belum pernah merasakan kenikmatan seintens ini dengan suamiku. Andi biasanya langsung memasukkan dan keluar hanya dalam tiga menit, lalu langsung tidur. Aku belum pernah orgasme sama sekali dengan suamiku. Tapi dengan Bapak… aku sudah beberapa kali dibuat orgasme meski aku berusaha menyangkalnya.

Bapak masih rakus menjilati vaginaku. Lidahnya berputar di klitorisku, kemudian menjilat ke lubang pantatku. Ia bahkan memasukkan lidahnya ke dalam lubang pantatku yang sempit. Sensasi nikmat yang aneh dan kuat langsung menyengat tubuhku. Aku merasakan kenikmatan yang benar-benar baru. Tanpa sadar, desahan kecil lolos dari mulutku, “Ahh…”. Aku mencoba menahannya, tapi sulit.

Orgasme pertamaku datang dengan cepat. Tubuhku mengejang pelan di sofa, vaginaku berdenyut, dan cairanku mengalir deras ke mulut Bapak. Aku tetap berusaha diam, hanya desahan kecil yang kadang keluar tanpa bisa kutahan.

Bapak tidak berhenti. Ia terus menjilati dengan rakus, lidahnya bolak-balik antara vagina dan lubang pantatku. Sensasi itu semakin kuat. Aku mendesah panjang tanpa bisa ditahan lagi, “Haaaah…”. Orgasme keduaku menyapu tubuhku lebih keras. Tubuhku gemetar, cairanku melimpah di wajah Bapak.

Bapak berdiri. Ia membuka celana pendeknya dan memberikan kejantanannya yang sudah tegang dan basah ke wajahku. Aku paham apa yang ia inginkan. Dengan tangan gemetar, aku memegang pangkalnya dan mulai menghisap kepala kejantanannya. Bapak sangat menikmati. Ia maju mundur seperti sedang menggenjot vagina, mendorong kejantanannya lebih dalam ke mulutku hingga aku sulit bernapas. Aku tersedak beberapa kali, air mata menggenang di mataku, tapi ia menahan kepalaku dengan kedua tangannya agar aku tidak bisa melepas.

Akhirnya, dengan desahan rendah yang panjang, “Hhhnnnggh…”, Bapak muncratkan cairannya yang panas dan kental langsung ke dalam mulutku. Jet demi jet memenuhi tenggorokanku. Aku terpaksa menelan sebagian besarnya, tersedak dan batuk pelan.

Tanpa jeda, Bapak mengarahkan aku untuk berlutut di sofa dan nungging. Entah mengapa, aku menurut lagi. Aku mengangkat pantatku tinggi-tinggi. Posisi nungging ini membuat aku benar-benar tidak bisa menahan kenikmatan. Saat Bapak memasukkan kejantanannya dari belakang dengan satu hantaman kuat, desahanku langsung lepas lebih keras, “Ahh… haaah…”.

Bapak menggenjotku dengan irama ganas. Suara desahan kami mulai sahut menyahut—desahanku yang pelan dan tercekat bercampur dengan desahannya yang rendah dan serak. Suara plok-plok basah memenuhi ruangan. Aku tidak lagi bisa menyembunyikan kenikmatan sepenuhnya. Desahanku semakin lepas setiap kali kejantanannya menghantam dalam-dalam.

Akhirnya, kami klimaks bersama. Bapak mendorong sedalam mungkin sambil mendesah panjang, menyemburkan cairannya yang kedua kalinya ke dalam vaginaku. Pada saat yang sama, orgasme ketigaku datang dengan hebat. Tubuhku mengejang kuat, vaginaku menggenggam kejantanannya erat, dan desahanku lolos tanpa kendali.

Kami baru selesai dan sedang merapikan pakaian ketika terdengar suara mobil Andi memasuki halaman. Suamiku pulang lebih cepat dari yang dijadwalkan.

Aku langsung panik, tapi Bapak tetap tenang. Kami sudah selesai tepat waktu. Andi masuk ke rumah dengan senyum lebar, memelukku erat. Malam itu, tak lama setelah makan malam, Andi langsung meniduriku di kamar kami. Ia tidak menyadari bahwa vaginaku masih penuh dengan sperma Bapak yang masih hangat di dalamnya.

“Andi… pelan-pelan…” bisikku pelan.

Tapi Andi terlalu bersemangat. Ia memasukkan kejantanannya dengan cepat. Hanya tiga menit kemudian, ia sudah mendesah, “Punyamu lebih enak sayang…” lalu muncratkan cairannya ke dalam vaginaku, bercampur dengan sisa milik Bapak. Setelah itu, ia langsung tertidur lelap di sampingku.

Aku terbaring diam di kegelapan, merasakan cairan yang bercampur di antara pahaku. Rasa malu, kenikmatan yang tersisa, dan kebingungan bercampur aduk di hatiku. Aku tidak tahu bagaimana harus menghadapi hari-hari mendatang.


Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)