Antara Aku Istriku Mama Dan Ibu Mertua Ku

i
0

 


Namaku Andi, 25 tahun. Aku sudah menikah dengan Rina selama dua tahun. Rina, 22 tahun, adalah perempuan yang sempurna di mataku. Kulitnya putih mulus, rambut hitam panjang yang selalu wangi shampoo mahal, tubuhnya ramping tapi berlekuk di tempat yang tepat—payudara sedang yang kencang, pinggang kecil, dan bokong yang selalu membuatku susah berkonsentrasi kalau dia pakai rok pendek di rumah. Hubungan kami biasa saja, seperti pasangan suami-istri kebanyakan. Kami saling sayang, seksnya rutin, kadang panas, kadang cuma pelukan biasa. Tidak ada yang aneh.

Kami tinggal bersama ibuku di rumah besar peninggalan almarhum ayah. Rumah ini sudah lama, dua lantai, kamar utama milikku dan Rina di sebelah kamar ibu. Hanya dinding tipis yang memisahkan. Aku kerja di kantor swasta biasa, bagian marketing, pulang kadang malam. Rina kerja sebagai admin di perusahaan kecil dekat pusat kota. Kadang dia lembur, dan kalau sudah kelewat jam sepuluh malam, dia lebih suka nginep di rumah teman kerjanya yang kosannya cuma lima menit dari kantor. “Biar nggak capek pulang malam-malam, Mas,” katanya selalu. Aku ngerti. Kami sudah biasa.

Malam itu, Kamis, aku pulang lebih malam dari biasanya. Jam sudah menunjukkan pukul 11 lewat. Badan pegal semua, kepala pusing karena meeting panjang dan macet di jalan. Aku masuk rumah pelan-pelan, tidak mau membangunkan siapa-siapa. Lampu ruang tamu sudah mati. Aku langsung menuju kamar kami di lantai atas. Pintu kamar sedikit terbuka, lampu dalamnya sudah padam total. Hanya cahaya samar dari lampu taman luar yang masuk lewat jendela tirai tipis.

Aku lihat samar-samar ada tubuh perempuan tidur telentang di atas ranjang kami. Tanpa selimut. Hanya memakai kaos oblong tipis yang kebesaran—kaosku yang biasa dia pakai tidur—dan celana dalam hitam kecil. Aku langsung tahu itu Rina. Atau setidaknya aku yakin sekali. Rina bilang tadi siang dia mungkin lembur lagi, tapi mungkin malam ini dia pulang. Aku tidak sempat cek HP karena baterai habis di perjalanan.

Entah kenapa, malam itu nafsuku tiba-tiba memuncak seperti tidak pernah sebelumnya. Mungkin karena capek, mungkin karena sudah tiga hari kami tidak bercinta karena Rina lembur terus. Aku melepas baju dan celana dalam diam-diam, berdiri di samping ranjang sambil memandangi tubuh itu dalam gelap. Payudaranya naik turun pelan saat bernapas. Paha putihnya sedikit terbuka. Aku merangkak naik ke ranjang, mendekat pelan.

Mulai dari kakinya. Aku ciumi jari-jari kakinya satu per satu, lalu naik ke betis, ke paha dalam. Lidahku menjilat pelan, meninggalkan jejak basah. Tubuh itu bergerak sedikit, tapi tidak bangun. Aku tersenyum dalam hati. Aku tahu Rina suka kalau aku bangunkan dia dengan cara begini. Aku terus naik, menciumi perut datarnya, lalu mengangkat kaosnya sampai ke leher. Payudaranya terpapar. Aku hisap puting kirinya pelan, lalu kanannya, bergantian sambil tanganku meremas lembut. Desahan kecil keluar dari bibirnya, tertahan, tapi aku menganggap itu pertanda dia mulai terangsang dalam tidur.

Aku turun lagi. Membuka kedua pahanya lebar-lebar. Aroma tubuhnya malam itu terasa lebih manis, lebih menggoda. Aku ciumi bibir vaginanya yang sudah agak basah, lalu menjilatnya pelan dari bawah ke atas. Lidahku menyusup masuk, menjilat klitorisnya dengan gerakan melingkar yang dia suka. Lalu aku turun lebih rendah—ke lubang pantatnya yang kecil dan rapat. Aku jilat di sana juga, menekan lidahku masuk sedikit, seperti yang selalu aku lakukan saat nafsu sedang tinggi. Tubuh itu menggelinjang, Tubuhnya bereaksi menggoyang berputar dan naik turun perlahan pinggulnya naik sedikit, seolah meminta lebih.

Aku tidak tahan lagi. Aku naik, memposisikan diri di antara pahanya. Punyaku sudah keras sekali, ujungnya basah oleh precum. Aku gesekkan pelan di bibir vaginanya yang licin, lalu mendorong masuk perlahan. Rasanya… berbeda. Lebih nikmat dari biasanya. Dinding vaginanya panas, lembab, dan seperti menyedot milikku kuat-kuat. Setiap kali aku dorong masuk sampai pangkal, dinding itu berdenyut-denyut, memijat batangku. Aku mulai menggenjot pelan, lalu semakin cepat. Pantatnya ikut bergoyang kanan-kiri, bukan naik-turun seperti biasa Rina lakukan, tapi goyangan samping yang membuat kepala penisku menggesek titik-titik sensitif di dalamnya. Rasanya luar biasa. Aku mendesah keras, tidak bisa ditahan.

“Uhh… enak sekali, Sayang…” bisikku di telinganya.

Aku genjot semakin dalam, semakin cepat. Suara bed yang berderit dan suara basah penisku keluar-masuk vagina semakin keras. Nafsu sudah menguasai aku sepenuhnya. Aku pegang pinggulnya kuat-kuat, menariknya ke arahku setiap kali aku dorong. Kami sama-sama menggenjot seirama. Desahanku semakin tidak bisa dikontrol, meski aku berusaha menahan agar tidak kedengaran ibu di kamar sebelah.

Tapi saat kami sama-sama menggenjot erotis itu, aku mendengar suara desahan tertahan yang sangat familiar. Bukan suara Rina. Suara itu… suara ibu.

"Shhh... Aaahhh.."

Aku sempat memperlambat gerakan, jantungku berdegup kencang. Tidak mungkin. Aku pasti salah dengar. Tapi desahan itu terulang lagi—pelan, tertahan, tapi jelas suara perempuan yang sudah aku kenal seumur hidupku. Suara ibuku.

Dengan tangan gemetar karena ragu, aku meraih tombol lampu di samping ranjang. Aku tekan.

Cahaya kuning lembut langsung menyala.

Dan dunia seolah berhenti.

Itu bukan Rina.

Di bawah tubuhku, telentang dengan wajah memerah, mata terbelalak kaget, dan bibir sedikit terbuka adalah… ibuku.

Mama. Umur 48 tahun, tapi masih terlihat cantik dan awet muda. Tubuhnya lebih montok dari Rina, payudaranya lebih besar dan agak kendur karena usia, pinggulnya lebih lebar, dan vaginanya yang sekarang masih menjepit penisku terasa lebih dalam, lebih panas, lebih berpengalaman. Kaos oblong yang kupikir kaos Rina ternyata kaos lama milikku yang Mama pakai untuk tidur malam ini.

Kami berdua terdiam. Matanya lebar, penuh kaget dan malu. Mulutnya terbuka tapi tidak ada suara yang keluar. penisku masih utuh di dalam vaginanya, berdenyut-denyut karena masih keras dan bergairah. Aku bisa rasakan dinding vaginanya berdenyut dan masih menyedot pelan, seolah tidak mau melepaskan.

Beberapa detik yang terasa seperti berjam-jam.

Lalu… entah kenapa, kami tidak berhenti.

Tidak ada yang menarik diri. Tidak ada yang berteriak atau mendorong. Malah sebaliknya.

Mama menggigit bibir bawahnya. Matanya yang tadinya kaget mulai berubah. Ada sesuatu yang lain di sana. Nafsu. Sama seperti yang aku rasakan. Pinggulnya bergerak pelan, seolah mengajakku melanjutkan.

Aku menatapnya dalam-dalam. Jantungku berdegup seperti mau meledak. “Ma…” bisikku, suaraku serak.

Mama tidak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya mengangguk kecil, hampir tak terlihat. Lalu tangannya naik, merangkul leherku, menarikku mendekat.

Malam itu, nafsu mengalahkan segalanya.

Aku mulai menggenjot lagi. Kali ini lebih pelan, lebih dalam, lebih sadar. Setiap dorongan aku rasakan betul bagaimana vaginanya memeluk penisku, bagaimana klitorisnya bergesekan dengan tulang kemalanku, bagaimana bokongnya yang montok itu bergoyang erotis di bawahku. Mama mendesah di telingaku, "Hmmm... Sshhh... AAhhh..." suara yang selama ini aku dengar hanya saat dia memanggil namaku untuk makan malam—sekarang berubah menjadi desahan mesum yang membuat darahku mendidih.

“Kamu… ahh… Andi…” desahnya pelan, suaranya gemetar.

Aku mencium lehernya, menggigit pelan, sambil terus menggenjot. Tangan Mama meremas punggungku, kuku-kukunya menancap. Kami tidak bicara banyak. Hanya suara napas berat, suara basah percintaan, dan desahan tertahan yang kami berdua usahakan agar tidak kedengaran ke luar kamar.

Malam itu baru saja dimulai.

Dan aku tahu, ini hanya permulaan dari sesuatu yang tidak akan pernah bisa kami hentikan lagi.

“Owhh… enak banget, Mah…” desahku tanpa sadar, suaraku serak penuh kenikmatan.

penisku masih tertanam dalam-dalam di dalam vagina Mama. Rasanya benar-benar berbeda dari Rina. Lebih hangat, lebih basah, dan dindingnya seperti punya nyawa sendiri—setiap denyutannya memijat batang penisku dengan sempurna. Mama menatapku dengan mata setengah terpejam, wajahnya memerah hebat, bibirnya basah dan sedikit terbuka.

“Terus, Ndi… Ahh.. Mama pengen keluar…” bisiknya gemetar, pinggulnya bergerak pelan menggoda, seolah meminta aku melanjutkan dengan lebih kuat.

Aku tidak perlu diperintah dua kali. Aku angkat kedua kaki Mama ke bahuku, membuat posisinya lebih terbuka lebar. Lalu aku mulai menggenjot lagi—lebih dalam, lebih cepat. Setiap dorongan aku masukkan sampai pangkal, kepala penisku menghantam bagian paling dalam vagina Mama. Suara “plok-plok-plok” basah terdengar jelas di kamar yang sunyi.

Mama mendesah semakin keras. “Ahh… Pelan.. ahh… teruss.., Ndi… ahh! Dalam banget…”

Tapi aku tidak bisa pelan. Nafsu sudah menguasai sepenuhnya. Aku genjot terus, tanganku meremas payudaranya yang besar dan lembut, jari-jemariku mencubit putingnya yang sudah mengeras. Mama melengkungkan punggungnya, kepalanya mendongak ke belakang. Vaginanya semakin licin, cairannya mengalir deras membasahi selangkangan kami berdua.

Aku ubah posisi. Aku tarik penisku keluar, balik tubuh Mama hingga posisi doggy style. Bokongnya yang montok dan lebar terpampang sempurna di depanku. Aku pegang pinggulnya kuat-kuat, lalu masukkan lagi penisku dari belakang dengan satu dorongan kuat.

“Ahhhhh!” Mama menjerit tertahan, tapi langsung berubah menjadi desahan panjang. “Enak… enak sekali, Nak… genjot Mama lebih keras…”

Aku menggenjot dengan ganas. Tangan kananku meraih rambutnya yang terurai, menarik pelan ke belakang sementara tangan kiriku menampar bokongnya pelan. Setiap hantaman membuat bokong Mama bergoyang indah, gelombang daging putihnya terlihat jelas. Aku rasakan vagina Mama semakin ketat, berdenyut-denyut hebat.

“Punya Mama nikmat banget… aahh!” erangku. Aku hampir mencapai puncak, tapi aku tahan. Aku ingin Mama keluar dulu.

Aku percepat ritme. penisku keluar-masuk dengan cepat, suara basah semakin keras. Mama mulai gemetar hebat. Kedua tangannya mencengkeram sprei kuat-kuat.

“Keluar… Mama mau keluar… ahh… ahhh… Ndi!!! Iya… iya… di situ… ahhhhh!!”

Tubuh Mama mengejang keras. Vaginanya menyedot penisku seperti pompa, cairan hangatnya menyembur keluar membasahi paha kami. Itu orgasme pertamanya. Tapi aku tidak berhenti. Aku terus menggenjot di tengah orgasmenya, membuat Mama menjerit tanpa bisa ditahan lagi.

“Aaahhh! Terus… jangan berhenti… Mama keluar lagi… ahh! Ahh! Ahhhhh!!”

Orgasme kedua datang hanya beberapa menit kemudian. Kali ini lebih kuat. Mama menjerit keras, suaranya menggema di kamar. Dia tidak peduli lagi apakah kedengaran ke kamar sebelah atau bahkan ke tetangga. Nafsu sudah mengalahkan segalanya. Tubuhnya kejang-kejang, cairannya muncrat lagi, kali ini lebih banyak, membasahi seprai.

Aku balik posisi lagi. Kali ini aku duduk di tepi ranjang, Mama naik ke pangkuanku menghadap aku (cowgirl). Payudaranya yang besar bergoyang-goyang di depan wajahku setiap kali dia naik-turun. Aku hisap putingnya bergantian sambil tanganku memegang bokongnya, membantu gerakannya.

Mama menunggangi penisku dengan liar. “Enak… penis kamu besar… memenuhi Mama… ahh… ahh…”

Kami berganti lagi ke missionary, lalu side-by-side, lalu Mama berbaring miring sementara aku menggenjot dari belakang sambil meremas payudaranya. Malam itu kami lakukan hampir semua posisi yang aku tahu. Setiap kali Mama mencapai orgasme, dia menjerit dan mendesah tanpa kendali. Multi orgasme datang bertubi-tubi—aku sudah tidak hitung lagi berapa kali tubuhnya mengejang hebat di bawah atau di atas tubuhku.

Akhirnya, setelah hampir dua jam, nafsu kami mencapai puncak bersama. Aku mencengkeram pinggul Mama kuat-kuat, menggenjot sekuat tenaga dalam posisi doggy sekali lagi.

“Mama… aku mau keluar…” erangku.

“Keluar di dalam ndi… Terus… ahhh!!” jerit Mama.

Kami klimaks bersamaan. Aku menyemburkan sperma panasku dalam-dalam ke rahim Mama, sementara vagina Mama berdenyut hebat menyedot setiap tetesnya. Mama menjerit panjang, tubuhnya ambruk ke depan, terkulai lemas di atas ranjang. Aku ikut ambruk di atas punggungnya, napas kami berdua tersengal-sengal. Keringat bercampur cairan cinta membasahi tubuh kami.

Kami berdua terkulai lemas, saling peluk tanpa kata. Malam itu kami benar-benar kelelahan, tapi puas luar biasa.

Pagi harinya, aku terbangun sekitar pukul 06.30. Mama sudah tidak ada di ranjang. Aku mencium aroma masakan dari bawah—telur goreng dan kopi. Aku turun ke dapur dengan hanya memakai boxer. Mama sudah rapi memakai daster rumah motif bunga yang tipis, rambutnya diikat asal.

Kami sempat saling pandang canggung beberapa detik. Wajah Mama memerah. Aku juga merasa aneh—malam tadi kami seperti orang gila.

“Pagi, Ma…” sapaku pelan.

“Pagi, Ndi…” jawabnya, suaranya lembut tapi ada getar.

Aku ambil HP dan hubungi Rina. Dia angkat di dering kedua.

“Halo, Sayang. Aku langsung kerja hari ini ya, lembur semalam jadi tidur di kosan. Pulang nanti sore aja. Nggak apa-apa kan?”

“Iya, nggak apa-apa,” jawabku, suaraku biasa saja. “Hati-hati di jalan.”

Setelah telepon ditutup, suasana dapur kembali hening. Aku dan Mama berdiri berhadapan di depan meja. Canggung sekali. Tapi entah siapa yang memulai—mungkin aku yang mendekat lebih dulu, atau Mama yang tiba-tiba memegang tanganku—nafsu kembali muncul begitu saja.

Aku tarik Mama ke pelukanku. Kami berciuman liar, lidah kami saling menari. Tangan aku langsung merayap ke bawah daster, meremas bokongnya yang telanjang di balik celana dalam tipis. Mama mendesah di mulutku.

Tanpa melepas dasternya, aku angkat sedikit kainnya, tarik celana dalam Mama ke samping. penisku sudah keras lagi. Aku angkat satu kaki Mama ke pinggir meja dapur, lalu masukkan penisku dari depan sambil berdiri. Mama memeluk leherku erat, mendesah pelan setiap kali aku dorong.

“Kita gila ya, Ndi…” bisiknya di telingaku, tapi pinggulnya justru ikut bergerak menyambut.

Kami bercinta cepat dan panas di dapur. Suara desahan kecil dan suara basah percintaan bercampur dengan aroma masakan. Mama keluar dua kali sebelum aku menyemburkan lagi di dalamnya.

Sebelum berangkat kerja, nafsu kami belum padam. Di ruang tamu, Mama nungging di sofa menghadap jendela besar yang menghadap jalan depan rumah. Aku hanya menurunkan resleting celana kantor, sementara Mama hanya menaikan dasternya ke pinggang dan menyingkap celana dalamnya ke samping.

Aku masukkan penisku dari belakang sambil berdiri. Kami bergoyang pelan tapi dalam, mata kami sesekali melirik ke luar jendela—melihat orang lewat, mobil lewat, tetangga pagi-pagi sudah menyapu halaman. Risiko itu justru membuat kami semakin bergairah.

“Ahh… pelan, Ndi… orang bisa lihat…” desah Mama, tapi bokongnya malah didorong ke belakang, meminta lebih dalam.

Aku genjot lebih cepat. Tangan aku meremas payudaranya dari belakang melalui daster. Beberapa menit kemudian, kami hampir bersamaan mencapai klimaks lagi. Aku menyembur di dalamnya sambil menekan penisku dalam-dalam, Mama menahan jeritannya dengan menggigit lengan sofa.

Aku tarik penisku, cepat rapihkan celana, cium kening Mama, lalu berangkat kerja dengan kaki masih agak lemas.

Sepanjang perjalanan ke kantor, aku hanya bisa memikirkan satu hal:

Ini baru hari kedua… dan aku sudah tidak bisa berhenti.

Sejak malam pertama itu, segalanya berubah total di antara aku dan Mama.

Kami jadi sering mencuri-curi waktu setiap kali Rina lengah. Kalau Rina sedang mandi atau sibuk di kamar, aku langsung mendekat ke Mama di dapur. Kami berciuman liar dalam hitungan detik, lidah saling menari cepat, tanganku meremas payudaranya yang besar melalui daster tipis, sementara tangan Mama meraba penisku yang sudah keras di dalam celana. Kadang hanya pelukan erat dari belakang sambil aku menggesekkan penisku ke bokongnya, bisik-bisik mesum di telinganya sebelum Rina keluar dari kamar mandi.

Beberapa kali nafsu kami benar-benar tak tertahankan. Saat Rina mandi pagi, kami hanya punya waktu 10-15 menit. Begitu pintu kamar mandi tertutup dan suara shower menyala, aku langsung tarik Mama ke kamarnya. Celana aku turunkan cepat, Mama angkat daster sampai pinggang, celana dalam disingkap ke samping. Aku genjot vagina Mama dari belakang sambil berdiri, cepat dan ganas. Hanya suara “plok-plok-plok” pelan dan desahan tertahan yang kami usahakan supaya tidak kedengaran. Mama biasanya keluar dua kali dalam waktu singkat, tubuhnya gemetar hebat sambil menggigit lengannya sendiri. Aku menyembur di dalamnya, lalu kami buru-buru rapihkan baju sebelum Rina selesai mandi. Wajah Mama masih merah padam, napasnya tersengal, tapi kami saling pandang dengan senyum penuh dosa.

Anehnya, hubungan keluarga kami di luar justru terlihat semakin harmonis. Rina sering bilang betapa senangnya melihat aku dan Mama semakin dekat. Mama lebih rajin masak makanan kesukaanku, aku lebih sering bantu pekerjaan rumah, dan suasana rumah terasa hangat. Rina tidak curiga sedikit pun. Dia tidak tahu bahwa di balik senyum dan obrolan biasa itu, aku dan Mama menyimpan api yang semakin besar.

Suatu malam, Rina kembali tidak pulang. Pesannya singkat: “Lembur lagi, Mas. Nginep di kosan temen. Pulang besok sore ya.”

Begitu pesan terbaca, aku dan Mama langsung saling tatap. Nafsu menyala instan. Malam itu kami memuaskan segala fantasi tanpa jeda sama sekali.

Setelah beberapa ronde biasa di kamar, aku bisik di telinga Mama, “Ma… malam ini aku mau coba yang di belakang. Lubang pantat Mama.”

Mama sempat ragu, pipinya merah. “Belum pernah, Ndi… takut sakit.”

“Aku pelan-pelan. Banyak pelumas. Kalau sakit bilang ya,” kataku sambil mencium lehernya.

Akhirnya Mama mengangguk. Aku ambil lotion dari kamar mandi, oleskan banyak-banyak di jari dan penisku. Mama nungging di tepi ranjang, bokong montoknya terangkat tinggi. Aku olesi lubang pantatnya yang kecil dan rapat dengan lotion, lalu masukkan jari tengahku perlahan. Mama mendesah aneh, tubuhnya tegang.

“Pelan… ahh… iihh..aneh sekali…”

Aku terus merangsang dengan jari, memutar-mutar pelan sambil tangan kiriku mengusap klitorisnya agar tetap rileks dan basah. Setelah lubangnya agak longgar, aku posisikan ujung penisku di depan lubang pantatnya dan dorong perlahan.

“Ahh… sesak… Ndi…” erang Mama, tangannya mencengkeram sprei.

Aku berhenti sejenak, biarkan dia terbiasa. Lalu aku dorong lagi, sedikit demi sedikit. penisku masuk pelan ke dalam lubang pantat Mama yang sangat sempit dan panas. Tekanannya luar biasa—setiap inci terasa seperti diremas kuat-kuat. Rasanya jauh lebih ketat dan lebih nikmat daripada vagina.

Setelah separuh masuk, Mama mulai mendesah berbeda. “Aduh… aneh… tapi… ahh… lama-lama enak juga…”

Aku mulai gerak pelan, keluar-masuk dengan gerakan pendek. Lama kelamaan Mama ikut menggoyang bokongnya pelan, menyesuaikan. Aku tambah kecepatan. Tangan aku pegang pinggulnya kuat, genjot semakin dalam dan cepat. Suara “plok-plok” basah karena lotion terdengar jelas.

“Enak, Ma?” tanyaku serak.

“Enak… ahh… lebih dalam lagi, Ndi… Mama suka… aaahhh! Genjot pantat Mama…!”

Mama mulai ketagihan berat. Dia minta lebih keras, lebih cepat. Aku genjot lubang pantatnya dengan ganas. Bokongnya bergoyang hebat setiap hantaman. Mama menjerit nikmat tanpa bisa ditahan lagi, tubuhnya kejang beberapa kali. Dia orgasme dua kali hanya dari anal seks—cairan dari vaginanya muncrat deras ke lantai. Aku juga ketagihan. Sensasi ketat dan panas itu membuatku hampir gila. Akhirnya aku menyemburkan sperma panas dalam-dalam ke dalam lubang pantat Mama, sambil menekan penisku sampai pangkal.

Saat aku tarik keluar, lubang pantatnya masih terbuka sedikit, spermaku perlahan menetes keluar. Mama ambruk lemas di ranjang, napasnya tersengal, tapi matanya penuh kepuasan. “Besok lagi ya… Mama sudah ketagihan…”

Paginya, di dapur, sebelum sarapan, Mama tiba-tiba mendekatiku. Dasternya sudah agak terbuka di bagian atas.

“Jilati punya Mama dulu dong, Ndi… Mama pengen banget...”

Aku langsung duduk di kursi dapur. Mama naik ke meja, membuka kakinya lebar di depan wajahku, daster disingkap ke pinggang. Aku tenggelam di antara pahanya dan menjilat vaginanya dengan lahap. Lidahku menari di klitorisnya, menyedot pelan, lalu menyelip masuk ke dalam lubangnya. Mama mendesah keras, tangannya menekan kepalaku ke bawah.

“Ahh… enak sekali… belum pernah dijilatin begini enaknya… terus, Nak… hisap klitoris Mama… aaahhh!!”

Mama keluar berkali-kali. Tubuhnya mengejang hebat, cairannya muncrat ke mulut dan daguku. Dia menjerit puas setiap orgasme datang, belum pernah aku lihat Mama begitu menikmati oral.

Setelah Mama puas, aku bilang, “Sekarang lobang belakang lagi ya, Ma.”

Tanpa bicara banyak, Mama langsung turun dari meja dan nungging di depan meja dapur, bokongnya terangkat. Aku olesi lotion cepat, lalu masukkan penisku ke lubang pantatnya dari belakang. Kami bergoyang cepat di dapur sebelum berangkat kerja.

Seperti kebiasaan sebelumnya, sebelum aku berangkat kerja, kami pindah ke sofa ruang tamu. Mama nungging di sofa menghadap jendela besar yang menghadap jalan depan rumah. Lalu lintas pagi sudah mulai ramai. Aku berdiri di belakangnya, turunkan resleting celana, lalu masukkan penisku langsung ke lubang pantat Mama yang sudah licin. Aku genjot pelan tapi dalam, tanganku meremas payudaranya dari belakang. Mama mendesah nikmat, bokongnya didorong ke belakang menyambut setiap hantaman.

“Ahh… enak ngga? mama.. duh.. Aahh.. genjot lebih cepat, Ndi…”

Kami bergoyang sambil sesekali melirik ke luar jendela. Risiko ketahuan membuat sensasi semakin panas. Aku percepat gerakan sampai aku menyemburkan lagi di dalam lubang pantatnya.

Sorenya, sebelum Rina pulang, kami masih sempat satu ronde lagi di ruang tamu. Kali ini lebih liar. Kami baru selesai berhubungan seks di sofa ketika terdengar suara motor Rina di depan rumah. Hanya beda beberapa detik saja. Mama buru-buru menurunkan dasternya sampai menutup paha, wajahnya masih merah dan napasnya tersengal. Aku cepat berdiri, menaikan celana, dan merapikan resleting. Jantung kami berdegup kencang, deg-degan setengah mati.

Rina masuk rumah sambil tersenyum lelah. “Aku pulang, Ma… Mas…”

Kami berdua menjawab hampir bersamaan dengan suara biasa, “Sudah pulang, Rin?”

Rina tidak curiga. Dia langsung ke kamar mandi. Aku dan Mama saling pandang sekilas. Wajah kami masih memerah, napas belum normal, tapi di mata kami ada kilat kenikmatan yang sama.

Deg-degan itu justru membuat kami semakin ketagihan.

Dan saar Rina mandi, aku dan mama kembali meneruskan sisa tanggung tadi sampai selesai, aku muncratkan spermaku di dalem lobang pantat mama, kemudian kali berciuman sebentar dan saling memisahkan diri.

Mama sempat mengelap sperma yang menetes di lantai dari lubang pantatnya, "punya kamu banyak banget ndi," kata mama dengan nada berbisik.

Rahasia ini semakin berbahaya…

dan kami berdua tidak ingin berhenti.

Setelah malam-malam penuh rahasia itu, hubungan gelap antara aku dan Mama semakin sering dan intens. Hampir setiap hari kami mencari celah. Pagi sebelum berangkat kerja, siang saat Rina lembur, malam saat Rina nginep di “rumah teman”. Mama seolah kembali muda lagi. Tubuhnya yang dulu terasa biasa saja kini penuh gairah. Payudaranya yang montok selalu siap disentuh, bokongnya yang lebar selalu bergoyang menggoda setiap kali aku mendekat. Dia lebih berani, lebih liar. Kadang dia sendiri yang memulai—merayap ke kamarku saat Rina tidur, atau menarikku ke gudang belakang rumah hanya untuk berciuman dan saling meraba sebentar.

Aku juga semakin ketagihan. Setiap kali penisku masuk ke dalam vagina atau lubang pantat Mama, rasanya seperti obat penenang sekaligus perangsang. Mama selalu bilang, “Kamu bikin Mama merasa hidup lagi, Ndi…” sambil mendesah di telingaku.

Suatu sore, saat aku sedang istirahat di kantor, HP-ku bergetar terus menerus. Banyak notifikasi dari grup WA kantor dan media sosial. Aku buka salah satu video yang sedang viral di kalangan rekan kerja. Jantungku langsung berhenti sejenak.

Video itu buram tapi jelas cukup. Seorang perempuan sedang naik-turun di pangkuan seorang pria di dalam kamar kontrakan sederhana. Wajah perempuan itu… Rina. Istriku. Rambutnya acak-acakan, payudaranya bergoyang liar, dan suaranya mendesah keras memanggil nama pria itu: “Mas Budi… lebih dalam… ahh!”

Komentar di bawah video sudah membara. “Ini istri Andi kan?” “Ternyata selama ini dia bilang nginep di rumah Vira, tapi sebenarnya di kontrakan selingkuhannya.”

Aku langsung merasa dunia berputar. Ternyata selama ini Rina tidak nginep di rumah temannya Vira. Dia sering ke kontrakan Budi—rekan kerjanya yang sudah beristri dan punya dua anak kecil. Mereka menyewa kontrakan murah hanya untuk satu tujuan: berhubungan seks sesuka hati. Video itu diambil diam-diam oleh seseorang, lalu menyebar cepat.

Aku tidak bisa diam. Dengan bantuan teman kerja dekatku yang kebetulan kenal istri Budi, kami berempat (aku, temanku, istri Budi, dan satu orang lagi sebagai saksi) memutuskan untuk mergokin mereka langsung di kontrakan itu malam harinya.

Kami datang tanpa suara. Pintu kontrakan tidak dikunci rapat. Begitu kami dorong pelan, pemandangan di depan mata membuat semua orang terdiam.

Rina dan Budi sedang telanjang bulat di atas kasur. Rina berbaring telentang dengan kaki terbuka lebar. Budi sedang menggenjotnya dengan ganas. Sperma sudah berceceran di mana-mana—di perut Rina, di payudaranya, di pahanya, bahkan ada yang menetes dari vagina Rina yang terbuka. Mereka jelas sudah melakukan beberapa ronde. Bau seks pekat memenuhi ruangan kecil itu.

Rina dan Budi kaget setengah mati saat lampu menyala dan kami masuk. Rina langsung menutup tubuhnya dengan selimut, wajahnya pucat. Budi terdiam, penisnya yang masih setengah tegang basah oleh campuran cairan mereka.

“Nggak bisa bohong lagi, Rin,” kataku dingin. “Semua sudah keliatan.”

Rina hanya bisa menangis dan memohon. Tapi bukti sudah terlalu jelas. Mereka baru saja selesai bercinta liar. Tidak ada kata-kata yang bisa menutupi itu.

Aku pulang ke rumah dengan hati hancur. Rina aku biarkan di kontrakan itu malam itu juga—aku tidak mau melihat wajahnya dulu.

Mama sudah menunggu di rumah. Begitu melihat wajahku yang pucat dan mata merah, dia langsung tahu ada yang salah. Aku ceritakan semuanya dengan suara bergetar. Mama kaget berat. Dia memelukku erat, mengusap punggungku pelan.

“Kasihan kamu, Nak… Mama di sini. Mama akan nemenin kamu.”

Malam itu, Mama mencoba menghiburku dengan cara yang paling dia tahu sekarang—dengan tubuhnya. Kami pindah ke kamar utama. Mama suruh aku duduk di tepi ranjang. Dengan lembut, dia berlutut di antara kakiku. Tangannya membuka resleting celanaku pelan, mengeluarkan penisku yang masih lemas karena shock.

Mama menciumi batang penisku dengan penuh kasih sayang. Bibirnya mengecup dari pangkal sampai ujung, lidahnya menjilat pelan sepanjang urat-uratnya. Lalu dia membuka mulutnya dan menghisap kepala penisku dengan lembut, perlahan. Tidak ada yang kasar. Setiap gerakannya penuh perhatian, seperti sedang menyembuhkan luka.

“Ahh… Ma…” desahku, tanganku masuk ke rambutnya.

Mama terus menghisap dengan ritme pelan tapi dalam. Kadang dia menelan penisku sampai tenggorokan, kadang hanya mengulum kepalanya sambil lidahnya berputar di lubang kecil di ujung. Tangan kirinya meremas pelan buah zakarku, tangan kanannya mengusap paha dalamku. Gerakannya begitu lembut, begitu sabar, seolah ingin bilang bahwa dia akan selalu ada untukku.

Lama kelamaan penisku mengeras sepenuhnya di dalam mulutnya. Mama semakin dalam menghisap, tapi tetap pelan dan penuh kasih. Air liurnya menetes ke pangkal penisku, membuat semuanya licin dan hangat.

Aku tidak tahan lama. Semua emosi hari itu—marah, sakit hati, dan sekarang kenikmatan dari Mama—bercampur jadi satu.

“Ma… aku mau keluar…” erangku.

Mama tidak menarik mulutnya. Dia justru semakin cepat sedikit, tapi tetap lembut. Saat aku mencapai puncak, dia cepat bangkit, membalikkan tubuhnya, dan nungging di depanku di tepi ranjang. Dasternya disingkap tinggi, memperlihatkan lubang pantatnya yang sudah basah oleh lotion yang dia siapkan diam-diam.

Aku berdiri di belakangnya dan memasukkan penisku yang sudah di ujung klimaks ke dalam lubang pantat Mama dengan satu dorongan pelan. Begitu masuk, aku langsung menyemburkan sperma panas dalam-dalam ke dalamnya. Jet demi jet keluar deras, memenuhi lubang pantat Mama. Mama mendesah pelan, bokongnya ditekan ke belakang, seolah ingin menampung semuanya.

“Keluarkan semua Ndi… Mama terima semua…” bisiknya lembut.

Aku ambruk ke punggung Mama, memeluknya dari belakang sambil penisku masih berdenyut di dalam lubang pantatnya. Spermaku perlahan menetes keluar saat aku tarik pelan.

Mama berbalik, memelukku erat, mencium keningku.

“Tidur ya, Nak. Besok kita bicarakan semuanya dengan tenang. Mama selalu di sini untuk kamu.”

Malam itu aku tidur dalam pelukan Mama, tubuh kami masih lengket oleh keringat dan sperma. Rina mungkin sedang menangis di kontrakan, tapi di rumah ini, ada pelukan yang jauh lebih hangat—pelukan yang penuh nafsu sekaligus kasih sayang terlarang.

Dan aku tahu, mulai sekarang, Mama bukan hanya ibuku lagi.

Dia adalah segalanya.


Hari-hari berikutnya aku hanya tinggal berdua dengan Mama di rumah besar itu. Rina sudah pulang ke rumah orang tuanya sejak malam kejadian di kontrakan. Dia benar-benar tidak berani datang ke rumah kami lagi. Hubungan kami sengaja aku gantung — tidak aku ceraikan, tidak juga aku maafkan sepenuhnya. Biar dia merasakan tekanan ini lebih lama. Biar dia sendiri yang memohon cerai kalau memang mau.

Rina sering menghubungiku. Telepon, WA, voice note penuh tangis. Dia meminta maaf berulang kali, bilang itu hanya kesalahan sesaat, bilang dia masih cinta sama aku. Bahkan Bu Halidah — ibu mertuaku yang berusia 45 tahun — ikut turun tangan. Hampir setiap hari dia menelepon, suaranya penuh permohonan.

“Andi… tolong maafkan Rina ya, Nak. Dia anak satu-satunya yang membiayai hidup kami sekeluarga. Adik-adiknya masih sekolah, biaya hidup sehari-hari juga dari gaji Rina. Kalau dia dipecat karena skandal ini, nasib kami semua akan hancur. Siapa yang akan menghidupi kami nanti? Tolong… kasih dia kesempatan.”

Aku mendengarkan semua itu dengan tenang. Tapi di balik kata-kata sopan, pikiran gelapku sudah berputar.

Suatu sore, aku janjian bertemu Bu Halidah secara rahasia di sebuah kafe kecil di pinggir kota. Kami duduk di pojok paling belakang. Aku langsung bicara terbuka, jelas, dan tanpa basa-basi.

“Bu, saya mau balas selingkuh Rina dengan selingkuh juga. Tapi bukan dengan perempuan sembarangan. Saya mau dengan Bu Halidah sendiri.”

Bu Halidah langsung tersentak kaget. Matanya membelalak, wajahnya memucat seketika.

“Andi… kamu bicara apa? Tidak mungkin! Ibu sudah tua, 45 tahun. Tubuh ibu sudah tidak seperti dulu lagi. Kamu masih bernafsu sama ibu? Ini tidak masuk akal…”

“Ini bukan soal usia, Bu,” jawabku tenang. “Ini soal balas dendam dan nafsu. Kalau Bu bersedia, saya akan pertimbangkan untuk tidak menceraikan Rina dan tetap memberi nafkah. Kalau tidak… silakan lihat sendiri nasib Rina dan keluarga Bu ke depannya.”

Bu Halidah diam lama sekali. Tangannya gemetar memegang gelas. Dia menunduk dalam-dalam, napasnya berat. Akhirnya, dengan suara hampir hilang, dia berbisik:

“…Baiklah. Ibu setuju. Tapi ini harus rahasia mutlak. Jangan sampai ada yang tahu.”

Waktu dan tempat saat itu memang tidak memungkinkan untuk bercinta panjang. Jadi aku langsung menyampaikan permintaan pertamaku.

“Hari ini saya hanya minta DP dulu, Bu. Ibu harus menghisap punyaku sampai saya mucrat di dalam mulut Ibu, lalu menelan semuanya.”

Bu Halidah menelan ludah susah payah. Wajahnya merah padam karena malu. Tapi dia sudah terpojok. Dia mengangguk pelan.

Kami pindah ke mobilku yang parkir di area sepi belakang kafe. Kursi belakang cukup luas dan gelap. Aku duduk santai, membuka resleting celana, dan mengeluarkan penisku yang sudah mulai mengeras. Bu Halidah duduk di sampingku sebentar, lalu dengan malu-malu dia berlutut di lantai mobil, di antara kakiku.

Dengan tangan gemetar, dia memegang batang penisku yang sudah tegang.

“Hmm… gede banget…” gumamnya pelan, hampir tak terdengar.

Dia mulai dengan menciumi ujung penisku perlahan. Bibirnya yang agak tipis mengecup kepala penis berulang kali, lalu lidahnya keluar, menjilat dari pangkal sampai ujung dengan gerakan lambat dan hati-hati. Air liurnya mulai keluar, membuat batang penisku mengkilap.

“Masukkan ke mulut, Bu,” bisikku memberi perintah lembut.

Bu Halidah membuka mulutnya lebar, lalu menelan kepala penisku. Mulutnya hangat, agak kering di awal. Dia mulai menggerakkan kepalanya naik-turun pelan. Hanya separuh batang yang masuk. Lidahnya bergerak kikuk di bawah penisku, mencoba menjilat sambil mengulum.

Aku pegang kepalanya yang masih berkerudung pelan. “Lebih dalam, Bu… hisap lebih kuat… gunakan lidah lebih aktif.”

Dia berusaha menurut. Mulutnya semakin basah oleh air liur. Suara “slurp… gluck… slurp…” pelan terdengar di dalam mobil yang sunyi. Lama kelamaan dia bisa menelan lebih dalam — hampir sampai tengah batang. Pipinya menggembung setiap kali kepala penisku masuk. Kadang dia tersedak kecil, air mata menggenang di sudut matanya karena refleks, tapi dia tidak berhenti.

Tangan kirinya memegang pangkal penisku, mengocok pelan mengikuti gerakan mulutnya. Tangan kanannya memegang pahaku untuk menjaga keseimbangan. Gerakannya semakin lancar. Dia mulai menghisap dengan ritme stabil, kepalanya naik-turun lebih cepat. Lidahnya berputar di sekitar kepala penis setiap kali naik, menjilat lubang kecil di ujungnya dengan rakus.

“Bagus, Bu… enak sekali…” erangku.

Bu Halidah semakin berani. Dia menarik penisku keluar sebentar hanya untuk menjilat seluruh batang dari bawah ke atas dengan lidahnya yang panjang, lalu langsung menelannya lagi dalam-dalam. Air liurnya menetes deras ke buah zakarku, membuat semuanya licin dan basah. Wajahnya sudah basah oleh campuran air liur dan keringat. Kerudungnya agak miring karena gerakan kepalanya yang semakin cepat.

Aku sudah di ujung. “Bu… saya mau keluar… siap-siap telan semua ya…”

Bu Halidah hanya mengangguk kecil tanpa melepaskan penisku. Dia menghisap lebih kuat, lebih cepat. Tangan kanannya meremas buah zakarku pelan, memompa sperma keluar.

Akhirnya aku mencengkeram kepalanya dan menyemburkan sperma panas langsung ke dalam mulutnya. Jet demi jet menyembur kuat ke tenggorokannya. Bu Halidah tersedak sebentar, pipinya menggembung, tapi dia menahan dan mulai menelan. Aku bisa merasakan gerakan tenggorokannya yang susah payah menelan setiap tetes spermaku. Hanya sedikit yang bocor di sudut bibirnya.

Setelah aku selesai, Bu Halidah menarik mulutnya pelan. Dia membersihkan bibir dan dagunya dengan punggung tangan, napasnya tersengal-sengal. Wajahnya merah sekali, matanya berkaca-kaca karena malu dan shock.

Tapi ternyata, Bu Halidah tidak bisa menahan diri lagi.

Dengan suara malu-malu, hampir berbisik, dia berkata sambil menunduk:

“Andi… ibu… ibu nggak bisa nahan… Ibu pingin ngerasain juga… sebentar aja ya… masukin… please…” katanya sambil mengusap penisku yang mulai tegang lagi.

Aku tersenyum puas. Tanpa banyak bicara, aku tarik Bu Halidah naik ke pangkuanku. Kami berhubungan seks cepat di kursi belakang mobil. Aku angkat rok panjangnya, singkap celana dalamnya ke samping, lalu masukkan penisku yang masih basah oleh air liurnya ke dalam vagina Bu Halidah yang sudah sangat licin. Kami bergoyang cepat, liar, dan penuh nafsu. Bu Halidah mendesah tertahan di bahuku, tubuhnya montok bergoyang di atasku. Hanya butuh beberapa menit sampai kami berdua klimaks hampir bersamaan.

Setelah selesai, Bu Halidah masih duduk di pangkuanku, napasnya berat. Dengan suara malu tapi penuh harap, dia bertanya pelan:

“Kapan… janji kita yang sebenarnya dilakukan, Andi? Ibu… ibu sepertinya masih kurang…”

Aku hanya tersenyum, mengusap pipinya pelan.

“Segera, Bu. Tunggu kabar dari saya.”

Sepanjang perjalanan pulang, aku merahasiakan semua ini dari Mama. Ini rahasia hanya antara aku dan Bu Halidah saja.

Dan aku tahu, ini baru permulaan dari balasan yang jauh lebih panjang dan nikmat.

Setelah ronde cepat di kursi belakang mobil itu, aku menjalankan mobil perlahan menuju rumah Bu Halidah. Sesampainya di gang kecil dekat rumahnya yang sepi, aku mencari parkiran aman di bawah pohon besar yang agak gelap. Lampu jalan tidak terlalu terang di situ.

Aku matikan mesin mobil dan menatap Bu Halidah yang masih duduk di sampingku dengan wajah merah dan napas belum stabil.

“Bu, buka kaki lebar-lebar. Anggang di kursi,” perintahku pelan tapi tegas.

Bu Halidah sempat ragu sebentar, tapi akhirnya dia nurut. Dia geser tubuhnya, menyandarkan punggung ke pintu mobil, lalu mengangkat rok panjangnya sampai pinggang. Dengan malu-malu dia membuka kedua pahanya lebar, memperlihatkan vagina dan lubang pantatnya yang masih basah bekas percintaan tadi. Celana dalamnya sudah ditarik ke samping sejak tadi.

Aku langsung membungkuk ke arah pangkuannya. Aku ciumi paha dalamnya yang montok dulu, lalu lidahku menjilat pelan bibir vaginanya yang sudah bengkak dan licin. Bu Halidah langsung menggigit bibirnya kuat, menahan desahan.

“Ahh… Andi… pelan…” bisiknya gemetar.

Lidahku menari di klitorisnya, menyedot pelan, lalu menyelip masuk ke dalam lubang vaginanya. Aku jilat dengan lahap, menikmati rasa manis asin cairannya. Tidak berhenti di situ, aku turunkan lidah lebih rendah dan menjilat lubang pantatnya yang kecil dan rapat. Bu Halidah tersentak, pinggulnya naik sedikit.

“Aduhh..… di situ juga… ahh…”

Aku terus menjilat bergantian — vagina, klitoris, lalu lubang pantatnya. Lidahku menekan masuk sedikit ke lubang pantat yang sempit. Bu Halidah menahan desahannya sekuat tenaga, tangannya mencengkeram jok mobil. Tubuhnya gemetar hebat.

Beberapa menit kemudian, orgasme pertama datang. Bu Halidah menekan mulutnya dengan tangan, tubuhnya mengejang keras. Cairannya muncrat sedikit ke lidahku. Aku tidak berhenti. Aku terus menjilat lebih cepat, fokus di klitorisnya sambil jari tengahku memasukkan pelan ke lubang pantatnya.

“AAhh… lagi… ibu keluar lagi… ahhhhh!!”

Orgasme kedua lebih kuat. Bu Halidah hampir menjerit, tapi dia tahan dengan menggigit lengannya sendiri. Tubuhnya kejang-kejang, cairan vagina mengalir deras. Aku puas sekali melihatnya. Sama seperti Mama, Bu Halidah sudah lama menjanda. Nafsunya tertahan bertahun-tahun, dan sekarang aku sedang melepaskannya pelan-pelan.

Setelah selesai, Bu Halidah terkulai lemas di kursi. Napasnya tersengal-sengal, wajahnya basah oleh keringat.

“Sebentar… ibu butuh waktu sebentar untuk tenang…” katanya lemah sambil memejamkan mata.

Aku tidak langsung membiarkannya turun. Tangan kananku masih mengusap pelan vaginanya yang basah dan sensitif, jari-jariku mengelus klitorisnya dengan lembut. Bu Halidah menggelinjang kecil, mendesah pelan setiap kali jemariku menyentuh titik sensitifnya. Baru setelah napasnya agak normal, aku berhenti.

“Turunlah, Bu. Hati-hati.”

Bu Halidah merapikan roknya dengan tangan gemetar, lalu turun dari mobil dan berjalan pelan menuju rumahnya. Aku melihat punggungnya sampai menghilang di balik pintu.

Malam harinya, sekitar pukul 10, WA dari Bu Halidah masuk.

Bu Halidah:

“Kamu nakal banget, Ndi… Ibu masih kebayang terus. Masih berasa nikmatnya di situ… masih basah nih…”

Aku hanya balas singkat untuk menjaga image:

“Iya Bu.”

Tapi Bu Halidah terus mengirim chat. Dia seperti sudah tidak tahan. Aku akhirnya mengambil keputusan.

Aku:

“Video call sekarang. Ibu masturbasi di depan kamera. Aku juga akan masturbasi bareng.”

Bu Halidah langsung menolak di chat pertama:

“Tidak mungkin, Ndi… malu sekali…”

Aku balas tegas:

“Kalau tidak, besok tidak ada lagi. Aku juga akan buka kamera dan masturbasi bareng Ibu.”

Beberapa menit kemudian, video call masuk. Bu Halidah menerima dengan wajah malu-malu. Dia sudah berada di kamarnya, lampu agak redup. Aku juga buka kamera, memperlihatkan penisku yang sudah keras sambil aku kocok pelan.

“Mulai, Bu. Angkat rok, buka kaki lebar. Colok vagina Ibu dengan jari, lalu masukkan juga ke lubang pantat.”

Bu Halidah nurut dengan malu. Dia duduk bersandar di kepala ranjang, angkat roknya, buka kaki lebar. Tangan kanannya turun ke vagina, jari tengah dan telunjuknya masuk pelan ke dalam lubangnya yang masih basah. Tangan kirinya agak susah, tapi dia coba masukkan jari ke lubang pantatnya.

“Ahh… Andi… ini… ibu belum pernah colok lubang ini… tapi enak ya…” desahnya pelan sambil matanya sesekali melirik ke layar, melihat aku yang sedang mengocok penisku lebih cepat.

Aku suruh dia percepat gerakan. Bu Halidah colok vaginanya semakin cepat, jari di lubang pantatnya ikut bergerak. Desahannya semakin keras meski dia usahakan pelan. Dia keluar dua kali di depan kamera — tubuhnya mengejang, cairannya membasahi sprei.

Kami masturbasi bareng sampai aku menyemburkan sperma ke tisu. Bu Halidah juga klimaks terakhir sambil menahan jerit.

Setelah video call selesai, aku merasa nafsu belum padam total.

Aku masuk ke kamar Mama. Mama sudah berbaring di ranjang memakai daster tipis. Begitu melihat wajahku yang penuh gairah, Mama tersenyum menggoda.

Aku langsung naik ke ranjang, menciumi seluruh tubuh Mama dengan lembut dan romantis. Aku ciumi lehernya, payudaranya, perutnya, lalu turun ke vaginanya. Aku jilat dengan penuh kasih sayang, lidahku menari pelan di klitorisnya sampai Mama mendesah manja.

“Enak banget Ndi… pelan saja malam ini… Mama mau romantis…”

Kami berhubungan seks dengan lembut dan romantis malam itu. Aku masukkan penisku ke dalam vagina Mama sambil berbaring menghadap, saling memeluk erat. Gerakan kami pelan, dalam, penuh kecupan dan bisikan mesum. Mama keluar dua kali dengan desahan panjang yang manis sebelum aku menyemburkan sperma di dalamnya.

Kami tidur berpelukan, tubuh lengket oleh keringat.

Sementara itu, rahasia dengan Bu Halidah tetap aku simpan rapat-rapat. Hanya aku dan dia yang tahu.

Dan aku merasa semakin kuat mengendalikan semuanya.


Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)